SMA NEGERI 7 PRABUMULIH

Jln. Lingkar Timur Muara Dua

DISIPLIN, RELIGIUS DAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

KEMERDEKAAN UNTUK KITA DAN INDONESIA

Senin, 17 Agustus 2020 ~ Oleh TIM IT SMAN 7 PRABUMULIH ~ Dilihat 1496 Kali

OLEH : NAFISHA AWANI NAZALIKA

Saat itu saya sedang mengerjakan tugas di ruang keluarga. Di masa pandemi COVID-19, seluruh pelajar di Indonesia harus melakukan pembelajaran jarak jauh. Perhatian saya teralihkan saat mendengar salah satu kanal TV yang membahas jika ada teman-teman kita yang berada di wilayah Indonesia bagian Timur yaitu Papua kesulitan untuk menghadapi perubahan kehidupan di masa pandemi ini.

Sejak dulu meski sebagian anak di Indonesia sudah bisa belajar dengan bebas dan memiliki fasilitas yang memadai, nyatanya banyak teman-teman kita dari Timur memiliki akses belajar dan mengajarnya yang masih terbelenggu. Dari awal mereka sudah di hadapi dengan kesulitan karena minimnya fasilitas dan tenaga kerja di Papua, ditambah lagi dengan perubaham sistem hidup di masa pandemi COVID-19. Perubahan sistem kehidupan ini mengharuskan semua anak di Papua berkembang. Namun, bagaimana cara mereka berkembang jika fasilitas belajar saja tidak memadai?

Pemerintah di daerah setempat pun ikut turut khawatir dengan akses pendidikan mereka. Keterbatasan fasilitas seperti listrik, jaringan dan gawai adalah salah satu penyebab utama kemalangan para pelajar di Papua. Para siswa berkata jika mereka tidak dapat fokus belajar dan jaringan sinyal pun masih terbatas. Ada juga yang bertutur bila kendala belajar dari rumah dikarenakan anak-anak Papua tidak memiliki media belajar yang utama saat ini yaitu ponsel pintar. Maka dari itu terpakasa mereka hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah setempat atau relawan.

Berdasarakan data dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Indonesia memiliki 4.107.465 guru. Sementara itu, Papua mempunyai 600.000 pelajar dan mirisnya hanya ada 18.000 tenaga pengajar disana. Wajar saja jika dari tahun ke tahun, pendidikan di Papua jauh tertinggal dari daerah lain di Indonesia.

Menurut Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 4, “Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional”.

Pasal tersebut memiliki makna pemerintah wajib untuk membantu kebutuhan-kebutuhan pendidikan setiap daerah di Indonesia tanpa terkecuali. Setiap anak memiliki hak mereka untuk menuntut ilmu dengan baik. Jadi, pemerintah mendapatkan peran yang penting untuk kelangsungan pendidikan anak-anak di Indonesia.

Sesuai dengan tujuan Indonesia pada Pembukaan Undang-Undang Republik Indoensia Tahun 1945 yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memanjukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Pemerintah harus merealisasikan segala tujuan Indonesia kepada seluruh masyarakat di Indonesia.

Tidak ada perbedaan antara daerah A dan daerah B. Baik kota besar maupun pedalaman, semuannya berhak untuk mendapatkan akses pendidikan yang semestinya. Tidak ada perbedaan dalam hal tersebut.

“Walaupun berbeda-beda, tetapi tetap satu.”

Itu adalah semboyan Bhineka Tunggal Ika yang berada di lambang negara kita, yaitu burung garuda. Indonesia terdiri dari beberapa daerah yang memiliki ras, suku, agama, adat istiadat dan budaya yang berbeda-beda. Perbedaan bukanlah suatu hambatan yang pada akhirnya akan berujung perpecahan. Indonesia dapat mengatasi perbedan ini dengan warisan budaya dari leluhur kita dahulu, yaitu budaya gotong-royong atau saling membantu.

Budaya gotong-royong merupakan cara dimana semua masyarakat saling berkerja sama dan membantu meluruskan masalah yang di hadapi secara bersama-sama. Manusia adalah makhluk sosial dan akan membutuhkan manusia lainnya. Sama seperti kasus minimnya pendidikan di Papua. Para pelajar disana pasti ingin seperti pelajar yang berada di daerah lain. Mereka juga ingin memiliki gawai dan jaringan yang kuat agar proses belajar mereka dapat berjalan dengan lancar. Tidak hanya pelajar, tetapi para tenaga pegajar di Papua pun butuh bantuan dan bimbingan tentang kecanggihan teknologi saat ini agar mereka bisa mengajar anak-anak murid mereka tanpa ada kendala sedikit pun.

Di sini peran kita sebagai warga negara Indonesia sangat dibutuhkan untuk mereka yang bernasib kurang beruntung. Tidak ada salahnya untuk berbagi ilmu maupun sedikit harta kita untuk mereka. Walaupun bantuan kita sedikit, namun bantuan itu bisa membuat mereka perlahan merasakan kemerdekaan. Secara tidak langsung juga kita menumbuhkan nilai budaya gotog-royong pada diri kita. Budaya gotong-royong ini perlu ditanamkan kepada seluruh masyarakat Indonesia terutama generasi muda. Budaya yang diwariskan turun menurun ini tidak boleh punah dan harus selalu diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Kecanggihan teknologi bukan berarti kita memanfaatkannya untuk hal yang negatif. Semuanya memang sudah berkembang dengan pesat, tetapi bukan berarti generasi muda di biarkan buta berkenaan budaya-budaya yang ada di Indonesia. Dari kecil, anak-anak Indonesia wajib di ajarkan tentang nilai-nilai budaya di Indonesia.

Menurut pengamatan saya terhadap generasi muda zaman sekarang, mereka cendurung hanya sekedar mengetahui tentang budaya Indonesia. Itu pun, mereka cuma mengetahui budaya di daerahnya sendiri bukan seluruh budaya di Indonesia. Bagi generasi muda, budaya memang penting dan perlu mereka lestarikan, akan tetapi mereka tidak terlalu tertarik untuk mengenal lebih dalam untuk mempelajari budaya Indonesia. Salah satu cara untuk memperbaiki pandangan generasi muda sekarang adalah dengan cara memberikan edukasi budaya nusantara kepada mereka.

Edukasi budaya nusantara adalah kegiatan yang mempelajari nilai-nilai budaya di setiap daerah Indonesia. Generasi muda perlu mendapatkan edukasi budaya ini dari beberapa sumber seperti pelajaran yang diberikan oleh guru di sekolah, sebuah kisah dongeng atau legenda dari orangtua dan tempat-tempat bersejarah. Edukasi juga bisa di lakukan saat kita berwisata ke suatu tempat yang memiliki budaya-budaya nusantara di dalamnya. Sebenarnya teknologi dapat dimanfaatkan untuk mecari sumber edukasi budaya lebih luas, namun masih perlu juga bimbingan dari guru dan orang tua untuk menanamka nilai budaya Indonesia di jiwa generasi muda.

Dengan semakin berkembangnya budaya gotong-royong, kemerdekaan belajar dapat dirasakan oleh semua pelajar. Terutama teman-teman kita di Papua akhirnya dapat merasakan belajar tanpa ada hambatan. Mereka dapat fokus belajar dari rumah tanpa harus keluar rumah untuk mencari sinyal yang kuat apalagi niat untuk putus sekolah. Keuntungannya lagi, fasilitas belajar mereka seperti buku cetak gratis, radio belajar, atau pun gawai gratis beserta kuota internetya bisa didapatkan melalui bantuan dari kita semua. Tradisi gotong-royong ini bukan hanya untuk Papua saja namun seluruh daerah Indonesia lainnya juga. Semua pelajar di Indonesia berhak mendapatkan kemerdekaan dan keadilan dalam proses belajar mereka.

Tujuan dari memberikan bantuan untuk memerdekan pendidikan kepada pelajar di Indonesia itu karena mereka adalah calon-calon penerus bangsa. Jika semua pelajar di Indonesia mendapatkan kebebasan dan keadilan dalam pendidikan, maka keuntungannya adalah semua anak bangsa dapat mecapai cita-cita mereka. Berkembangnya pendidikan dan edukasi budaya yang maju di Indonesia ternyata berdampak juga dengan perkembangan SDM (Sumber Daya Manusia). Sumber daya manusia akan jauh lebih bagus dan memiliki bekal wawasan yang luas. Akibatnya, tingkat kasus pengangguran di Indonesia akan menurun terlebih lagi perekonomian Indonesia akan lebih maju.

Teknologi adalah salah satu sarana untuk memajukan pendidikan. Dengan mendayagunakan kemajuan informasi, anak-anak akan jauh lebih kreatif dan lebih banyak mendapatkan pelajaran secara luas. Pada akhirnya pendidikan yang berkualitas dapat membantu para pelajar di Indonesia untuk bebas berkarya dan juga berpotensi untuk memperkenalkan budaya-budaya Indonesia ke mancanegara.

Setelah semua tujuan Indonesia terkabulkan, bangsa Indonesia terutama pelajar akan bahagia. Mereka yang tadinya mengubur dan membuang mimpi mereka, mereka yang tidak peduli dengan pendidikan bahkan sampai berniat untuk putus sekolah, mereka yang berpikir sempit tentang pendidikan kini semuanya berubah apabila semua bangsa Indonesia saling bersatu. Budaya gotong-royong bukanlah hanya sebuah budaya yang hanya di jadikan sebagai sejarah saja, tetapi kita harus menerapkan nila-nilai budaya di kehidupan kita. Tidak hanya budaya gotong-royong, budaya lain juga harus kita tanamkan pada diri kita sendiri karena kita adalah anak Indonesia, kita cinta Indonesia!

Tanpa kita sadari ternyata dengan berusaha untuk memberikan kebebasan, berbuat adil dengan sesama serta menerapkan budaya sebagai solusi dari permasalahan minimnya pendidikan dapat membuat Indonesia merdeka dan bahagia. Kita semua memiliki wewenang untuk mendapat pendidikan yang sama rata. Begitu pula dengan budaya, semua budaya memiliki keindahannya masing-masing. Budaya dan tradisi adalah warisan yang perlu kita jaga agar tidak punah. Dengan kita semua bersatu, maka Indonesia akan aman, damai, dan tentram. Terlebih lagi, Indonesia jauh lebih bahagia.

 

BACA JUGA :

http://sman7prabumulih.sch.id/read/67/merdeka-belajar

KOMENTAR

Fara Felicia - Senin, 31 Agustus 2020

Wahh pemikirannya kritis sekali ! Tulisannya bagus Nafisah ????????

Mario Vallerian Gautama - Minggu, 30 Agustus 2020

Cerita nya sangat bagus, dan sangat menarik, Terimakasih banyak ya Nafisha ????.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

LEONARDI JAYE PUTRA, M.Pd

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Alhamdulillahi robbil alamin kami panjatkan kehadlirat Allah SWT,  dengan rahmat dan karunia-Nya lah akhirnya Website…

Selengkapnya

TAUTAN